Jogja untuk Mahasiswa Perantau




Memoria 13-15...


Saya adalah satu-satunya lulusan Ketahanan Nasional Alumni Univ. Gadjah Mada yang ada di Bengkulu. Tidak pernah terbersit di kepala saya, bisa menamatkan pendidikan di luar Bengkulu, tanpa membayar biaya kuliah. Lahir dari Ayah dan Ibu akademisi (Ayah : Dosen, Ibu : Guru), membuat kami masuk dalam sistem hidup yang disiplin, tertib, tapi sedikit demokratis. Ayah selalu ragu untuk mengizinkan sekolah "jauh dari pandangannya". Tapi mungkin karena ini Jogja, dulu dia juga pernah ada di sini, menamatkan S1 nya, selain itu saya tidak memberatkan biaya kuliah dan biaya hidup, serta ini juga jenjang pasca sarjana (mungkin dirasa lebih dewasa), maka izin pun diberikan.
.
Di tahun 2013, rasanya sudah jarang orang bepergiaan melalui jalur darat. Menempuh 2 hari 2 malam untuk menjalani tes Accept dan PAPs di UGM. Waktu berlayar di Kapal dari Sumatera menuju Jawa, menjadi salah satu moment saya menyelesaikan beberapa soal-soal dari buku Uji PAPs dan TOEFL. Kenapa tidak menggunakan pesawat?? Betul kami bukan keluarga ekonomi bawah, tapi bukan pula ekonomi atas. Sejak kecil kami diajarkan untuk sederhana, jadi saat itu, pesawat masih hal mewah untuk saya. Saya berangkat sendiri, tanpa ditemani orang tua. Berbekal seadanya 1 minggu saya mencoba mengenal Jogja, dan ya... saya jatuh cinta.. pada Jogja... dan pada Dia yang menemani saya waktu itu 😁. Adalah dia yang sekarang menjadi suami saya, seorang mahasiswa Psikologi Univ. Ahmad Dahlan.
Dan itu menjadi awal mula, bagaimana Jogja selalu menjadi alasan untuk pulang.
.
Saya tinggal di rumah kerabat di daerah Maguwoharjo, jauh memang kekampus.  Tapi mau bagaimana lagi, demi tidak terbebani oleh biaya kost, untungnya mas Psikologi setia antar jemput (padahal kost-kost-nya di Sapen). Saya hanya 2 tahun berada di Jogja. Bukan karena saya pintar, tapi jika lewat dari 2 tahun, maka saya harus mengembalikan biaya kuliah dan penalti. Selama 2tahun pun saya hanya pulang 2kali, ya betul, saat lebaran Idul Fitri. Menjadi anak mandiri di rantau membuat saya menjadi kuat. 1 bulan saya dikirimi Ayah Rp. 600.000-Rp. 800.000. Cukupkah??? Jelas tidak!!! Maka saya bergerak. Sembari kuliah saya berjualan online (dulu melalui aplikasi bbm), keisengan memutari SunMor, membuat saya terhubung pada Distributor pakaian. Maka, sebelum atau selesai kuliah saya mainnya ke ekspedisi, ntah Pos, ntah JnT, atau JNE. Selain itu kelihaian memasak saya jadikan ladang cuan, mas-mas Psikologi kebetulan sering bikin event. Nah, saya adalah penerima orderan kue dan nasi kotaknya. Bulan Ramadhan juga saya jadikan moment, untuk titip jualan RujakMie di Alun-Alun Kidul dengan harga Rp. 3000/mika. Tidak sampai disitu, kebetulan saya sudah lihai mengendarai Mobil, inipun menjadi cara mencari tambahan. Saya ajarkan anak Rektor salah satu PTM di Bengkulu untuk bisa mengendarai mobil, bayarannya??? Tiket Pesawat PP Jogja-Bengkulu. 😁😁
Ada lagi donggg... kebetulan kepala saya, otaknya agak encer. Sembari menyelesaikan tesis saya, dan tesis mas-mas Psikologi tadi, saya open job menyelesaikan 2 tesis lagi. Mereka adalah ibu-ibu teman mas psikologi, yang sebenarnya sudah bekerja, tapi sedang kuliah lagi. Selama proses pembuatan tesis ini, kami bisa makan di resto mahal (ketemuan perbaikan tesis, sekalian perbaikan gizi), dan Alhamdulillah 2 tesis tersebut selesai berbarengan dengan kami.
Oke next job. Sebelum melanjutkan sekolah di UGM, selesai S1 saya sempat bekerja sebagai staff di salah satu PTM di Bengkulu. Ini membuat saya cukup banyak kenal beberapa pengajar. Keberadaan saya di Jogja, cukup membantu mereka dalam mencari literatur. Bengkulu masih sangat minim toko buku, jadi jika mereka membutuhkan buku, biasanya mereka akan menghubungi saya. Maka selain ekspedisi, Bus Jogja-Bengkulu juga menjadi teman saya. Di Jogja saya juga berjualan kosmetik salah satu brand yang sistemnya menggunakan tutup point. Didalam tas selain ada bahan tesis, selalu ada katalog. Sembari menunggu antrian dosen pembimbing, disana juga saya menawarkan produk. Bahkan ketika bimbingan, istri pembimbing pun saya sodorkan katalog. Selesai bimbingan, selesai juga rekapan orderan beliau, yang akan saya antarkan ketika pertemuan bimbingan berikutnya. Kerja keras saya selama di Jogja membuat saya cukup aman untuk sekedar nonton di Amplas atau menyalurkan hobi kuliner. Saya dan mas psikologi punya hobi yang sama, jalan-jalan dan kulineran. Jadi tidak heran kalau mulai dari Bakmi Mirota, oseng mercon, rica Kalkun, sop Ayam, Nasi Goreng Notaris, KuahanBakpia 10rb/kotak - Bakpia 27rb/Kotak, Gudeg, Piscok, Lumpia,seafood kaki lima, sate klatak, Gado-Gado Columbia, Es Campur Kridosono, Es Dawet, burjo dan lainnya sudah kami jabani, walaupun buka puasa di setiap masjid di Jogja, tetap jadi primadona. Apa yang vukup berperan dalam ketersediaan keuangan saya dan mas (suami)?? Yap.. betul... ATM pecahan 20.000. Kadang di rek saya ad 40rb, di mas 45rb itu kami satukan, kemudian di tarik di ATM ini. HAHAHAHA. Sekarang ATM ini masih ada nggak ya?!
.
Saya mendapatkan beasiswa dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Di kelas kami, 1 provinsi 1 orang (kecuali Jogja, ada beberapa). Kami adalah sekumpulan aktifis atau atlet. Di kelas kami NU dan Muhammadiyah duduk bersebelahan, atlet panjang tebing dan atlet volly pun bisa ada di ruangan yang sama. Kami pun angkatan ke 2 Kelas Tannas dari Masyarakat sipil. Karena sebelumnya, prodi ini hanya diperuntukan untuk Polri/TNI/Angkatan lainnya.
.
Sebetulnya selesai kuliah saya dan mas, tidak berniat kembali ke Bengkulu. Tapi kondisi Ayah yang Stroke, membuat kami akhirnya mengabdikan diri kembali di Bengkulu. Sayangnya, hingga saat ini ilmu Ketahanan Nasional yang saya punya kurang termanfaatkan untuk Bengkulu.
.
Ahhh Jogja, menulis ini saja membuat aku bahagia. Apalagi jika pulang kembali kesana...

Comments