Langsung ke konten utama

Pandemi dan semua rasa didalamnya...


2tahun lebih sudah dunia berjibaku dengan pandemi COVID-19. Corono Virus Disease, sedangkan kode -19, sebagai label bahwa virus ini muncul di tahun 2019. Muncul pertama kali di Wuhan, sebuah tempat yang berada di China, yang ntah bagaimana bisa "BOOM" diseluruh negara yang ada di dunia.


Indonesia salah satunya, yang sampai saat ini masih menjadi negara dengan angka kasus yang tinggi, dibandingkan dengan negara-negara lain. Berbagai hal kemudian menjadi strategi pemerintah yang disebut untuk menurunkan angka kasus kematian akibat COVID.



Berbagai hal menjadi sebuah kebiasaan baru dalam gaya hidup masyarakat di dunia, diantaranya adalah :
1. Memakai masker,
2. Menjaga jarak,
3. Meminimalisir memdagangi tempat ramai,
4. Mencuci tangan dengan sabun,
5. Membawa handsanitizer saat bepergian,
6. Mencuci pakaian yang dipakai saat pergi walaupun baru dipakai sebentar,
7. Virtual meeting
Tapi hari ini, saya sedang tidak membahas 7 poin diatas.



Saya adalah satu diantara keluarga yang begitu terpukul kehilangan seseorang yang dinyatakan meninggal dengan positif COVID.
Berawal dari typus yang berjalan selama 10hari, disusul dengan DM yang mendadak diangka 500, dan Asma yang biasanya bisa dihandle dengan inhaler tapi tidak diwaktu itu. Hari itu dihari ke 13 sakitnya... Bunda seperti kehilangan semua tenaga untuk bertahan, dan kemudian janjinya pun ditepati, tanpa kurang atau lebih barang 1 detik pun. Bahkan sekedar menunggu sulungnya tiba, yang saat itu sudah di pintu masuk bangsal.

Saya adalah produksi dari didikan yang cukup disiplin, salah satunya adalah jika ada kerabat yang meninggal, Ayah Bunda cukup keras memberi perintah untuk hadir di Takziah. Alasannya, supaya ingat kematian, supaya menghibur keluarga yang ditinggalkan.
Didikan itu tertanam dalam diri saya, sampai pada hari itu, pertama kali keluarga inti kami pergi, saya merasakan seperti dunia runtuh, seperti kehilangan hasrat untuk melanjutkan hidup.
Dan pandemi menambah beban itu semakin berat, tidak ada yang ikut memandikan bahkan kami sekalipun, menyolatkan pun hanya kami sekeluarga, ditambah  2,-3 orang kerabat saja. Dipemakaman yang diwarnai hujan deras sejak pagi, Alhamdulillah masih ada beberapa tetangga dan saudara masih kami ingat sampai hari ini, kemudian kami kembali kerumah. Sepi.. hanya beberapa orang yang memberanikan diri tetap datang, tetap memeluk kami, menepuk pundak agar kuat. Lalu besoknya, hanya dilanjutkan takziah virtual.
Untungnya, ayah yang sudah 7tahun terakhr stroke, tetap sehat, segar, bugar.

Bunda adalah salah satu pasien yang dinyatakan positif COVID, pada gelombang I. Dimana masyarakat masih sangat sensitif. Positif COVID = dikucilkan. Positif COVID= didatangi tim satgas 1 mobil lengkap dengan APD untuk melakukan SWAB keseluruh anggota rumah, dan bersiap seluruh tetangga mulai menjauh.
Berbeda dengan kondisi COVID gelombang II, orang-orang sudah mulai percaya diri menyebutkan "sedang isoman", kemudian dengan baik hati keluarga, tetangga, teman mengirimkan makanan, vitamin, dll yang dirasa membantu proses penyembuhan.



Sejak hari itu, saya paham bahwa COVID tidak hanya menyerang sistem imun fisik, tapi sistem imun psikis, mental. Maka benar sudah, jika ada yanv mengatakan bahwa salah satu penangkal COVID adalah harus tetap BAHAGIA. Dengan bahagia, kamu akan bisa mencerna makanan dengan baik, mengkonsumsi multivitamin dengan baik, istirahat dengan cukup. Karena sampai hari ini, COVID belum ada obatnya. Sejauh ini, hanya isolasi minimal 14hari adalah jurus jitu yang disarankan Pelayanan Kesehatan.


Bersambung.....



Komentar

  1. Covid ini benar-benar meresahkan dan menyusahkan ya kak,ada juga beberapa kenalan yang terjangkit, dan katanya tersiksa banget.
    semoga pandemi ini cepat kelar ya kak

    BalasHapus
  2. Pandemi ini benar-benar menyusahkan ya kak, salah satu yang cukup terdampat juga itu dunia pariwisata, aku yang merupakan traveller aja sekarang, kudu tahan-than diri banget untuk keluar.

    BalasHapus
  3. Yg tabah y mbak, aku sudah merasakan kehilangan. Dan semoga covid segera selesai

    BalasHapus
  4. Semoga aja pandemi ini cepat berakhir, sungguh menyulitkan dengan semua keterbatasan

    BalasHapus
  5. Yang tabah ya mbak, aku udah merasakan kehilangan. Semoga pandemi segera berakhir

    BalasHapus
  6. Yang tabah ya Mbk, insyaAllah Bunda husnul khatimah. aamiin. Memang berat Mbk, kondisi psikis kita bnr2 diuji dalam kondisi ini. Semoga pandemi ini segera berlalu. aamiin. Semangat selalu Mbk.. 💕

    BalasHapus
  7. Semua pasti ada hikmahnya. Rasa kehilangan ibunda sajalah kadang tetiba nangis sendiri hanya liat postingan orang tentang ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan seperti ketauan, pas baca komen ini pun bisa bikin nangis....

      Hapus
  8. Terbayang olehku gimana sedihnya itu mbak. Hikss.. Tetangga ku juga ada gitu. Meninggal karena covid. Sepi yang takziah. Merasa kasihan banget dengan keluarganya, padahal mereka adalah orang yang rajin menjenguk orang lain. Baik itu musibah kematian, sakit, hingga undangan nikahan. Yang tabah ya mbak sekeluarga. Ditunggu next part dari ceritanya.. 🤗

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rambut Rontok karena Berhijab? Coba Kenali kebiasaan yang salah pada rambutmu...

  Rambut rontok pasti rata-rata semua perempuan pernah mengalami kayaknya ya??? Tinggal berat ringannya aja kayaknya. Apalgi di wanita yang berhijab. So, apa bener berhijab menyebabkan rambut rontok?? Saya salah satu dari ribuan wanita dengan masalah rambut rontok, yang kadang bikin nggak nyaman sampoan atau sisiran -_- Sedih liat rambut yang udah kayak arsiran di lantai rumah, karena dimana-mana ada. Saya berhijab dari masuk SMP, walaupun pas waktu itu nggak tertib-tertib bener sih. Kapan mau pake, kapan males nggak pake (kode keras : jangan ditiru!!!!). Jadi dulu dipaksa Ayah untuk pake Hijab, dan.... jaman dulu mana berani bilang nggak. Selalu "iya". Balik lagi kebahasan Hijab, jadi kalo diitung-itung sekarang udah kurang lebih 18 tahun pake hijab. Nah... terus apa ada hubungannya ya Hijab = Rambut Rontok. Coba deh kita bahas satu per satu kebiasaa-kebiasaan yang sepertinya, baik atau tidak baiknya. 1. Rambut Basah langsung ditutup Hijab Saya tipe orang yang males rambut l

Berani Hadapi Dunia Baru dengan Skill Academy

Keadaan ekonomi, kondisi pandemi saat ini sebetulnya bukan menjadi alasan besar menurunnya kualitas hidup seseorang, atau alasan sulitnya menjalani kehidupan sehari-hari. Kesulitan yang sebenarnya justru muncul ketika kita tidak mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Sehingga kita mengalami shock ketika menemukan kondisi baru, misalnya menghadapi penurunan pendapatan penjualan pada usaha milik sendiri, atau pemutusan hubungan kerja dari perusahaan atau tempat kita bekerja.     Semua manusia dilahirkan pasti memiliki kelebihan meskipun satu orang dengan orang lain tidak bisa disamakan. Potensi yang berbeda ini ada, tanpa harus memandang ras, latar belakang keluarga atau pun tingkat ekonomi.   Maka tugas yang harus dilakukan sebenarnya adalah menggali potensi dan meminimalisir kekurangan dalam diri sendiri. Salah satu solusi yang ditawarkan hari ini adalah pelatihan Skill Academy by Ruang Guru. Pelatihan ini dilakukan secara online, sehingga kamu bisa menyimak dengan baik k

Keluarga dan Oreo 110th Birthday Celebration

Sumber : Koleksi Pribadi    Setelah November 2020 lalu, bagi kami waktu bersama terasa lebih sangaatttt penting dari apapun. Kami punya cerita sendiri, tentang bagaimana rahasia kehidupan di dunia ini. Betul sekali tentang umur adalah rahasia Nya.    Semenjak kepergian Bunda, gelar sebagai anak tertua membuat saya berusaha mengumpulkan adik-adik sesering mungkin, disetiap hari libur disetiap waktu yang bisa digunakan untuk bertemu. Salah satunya adalah, momen Ulang Tahun. Sekarang kami merasa Ulang Tahun adalah waktu spesial untuk berkumpul, waktu spesial untuk berkeinginan, waktu spesial untuk berbagi kebahagian. Meskipun sebetulnya sejak kecil, Ulang Tahun adalah salah satu waktu yg ditunggu sekedar meminta boneka atau baju baru.    Biasanya kami merancang waktu berkumpul beberapa hari sebelumnya, menyesuaikan dengan jadwal masing-masing anggota keluarga, berharap agar di hari H semua anggota keluarga bisa hadir. Meskipun anggota keluarga pun sudah melingkari tanggal-tanggal lahir ma