Orang Tua dalam Pernikahan


Setelah menikah seorang anak perempuan akan menaruh semua kemanjaannya. Kemanjaan


 dari semua fasilitas yang orangtuanya berikan, lalu bersiap memulai semua dari 0.

Dari 0 seperti apa yang sebetulnya dimaksud??

Bukankah setiap anak perempuan telah dididik dan diharapkan oleh semua orangtuanya? Disekolahkan setinggi-tingginya, tidak dengan cita-cita hanya menunggu uang saku dari suami.

Apakah harus bersedia tinggal dengan menyewa rumah bertahun-tahun? Dengan dalih.. tidak bergantung pada orangtua salah satunya.

Apakah menerima semua tanggungjawab dengan dilakukan bersama? Seperti, istri turut mencari nafkah, agar terpenuhi semua kebutuhan. Karena jika tidak, bisa-bisa tidak bisa hidup keduanya, suami merasa sudah memberi nafkah walau jauh dari kata cukup. Istri yang tidak bekerja lalu pontang panting mencari kesana kemari, agar semua tercukupi. Bahkan tidak jarang menurunkan harga diri, meminta bantuan teman atau kerabat.

Atau suami yang tidak bisa memenuhi nafkah, lalu diambil alih oleh orangtuanya? Jika sudah begitu, apakah seorang suami tetap tidak berhak di hormati? Dengan dalih, dia tidak bekerja...rumah ini, makan hari-hari, jajan anak, uang sekolah anak, biaya gaya itu semua dari orangtua suami...

Ketika seorang anak sudah menikah, dimana peran orang tua?? Apakah ketika anak perempuan mereka "merasa" tidak dinafkahi, lalu mereka dengan sukarela ikut menafkahi? Atau ketika anak laki-laki nya tidak cukup memenuhi kebutuhan rumah tangganya?

Hati saya tergelitik.

Orangtua sangat marah ketika putri mereka dirasa tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya. Lalu dengan marah dengan kesal meminta menuntut menantu laki-lakinya agar bisa memberikan semua yang anak perempuannya mau bahkan ketika sudah jauh dari kebutuhan utama.

Lalu meminta anak menantu perempuannya untuk terus berdo'a dan bersabar, ketika anak laki-laki mereka tidak mampu bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga, bukan yang menantu perempuannya mau.

Setiap orangtua menginginkan hal yang sama untuk anak perempuan mereka. Tak ingin kekurangan, tak ingin merasa sakit, tak ingin terbebani. 

Coba kembalikan semuanya pada diri sendiri. Maka mungkin, ini menjadi jalan introspeksi terbaik...


At-Taqwa..17 Mei 2022

Comments